Tuhan, Jagalah Dia…

Tuhan,

Aku sudah berusaha sekuat tenaga…

Aku sudah melakukan yang terbaik…

Tapi,

Kuberuntungan tidak berpihak kepadaku…

————————————————

Akhirnya…

Tuhan,

Kupasrahkan cintaku pada-Mu…

Jagalah dia dengan kasih-Mu…

Oh Dasar Betina…

Saat itu, saat aku tidak menyadari bahwa kau telah memperhatikanku..

Mengenang saat itu kau selalu pergi bersamaku…

Dengan candamu, tawamu, marahmu, senyummu…

Aku dulu benar2 tidak tahu…

Saat ini, setelah aku menyatakan cintaku…

Mengapa engkau malah lari menjauh…

Aku datangi rumahmu, kau tidak mau menemuiku…

Aku kirim surat, kau tidak mau membalasku…

Aku hubungi, tidak kau jawab…

Oh dasar betina..

kau seperti burung merpati saja, ku dekati kau lari… ku diam kau menghampiri… (lagu Iwan Fals)

Apa maksudmu?…

Aku ga tahu sekarang, mengapa hatimu begitu keras seperti batu?

“Dasar Betina”…

seaNDainya kaMU maU peRCAya …

apa Yg bisa di ungkaPkan ???
haNya inGin kataKan ,
aKu mengaGumimu …
pEsona tErmegAh yG peRnaH meNguasai haTiKu …
biLa biSa di katakaN sebagai sEbUah keSALaHan ,
kamULah saTu – saTu nya Yg tak pERnah KusesaLi daRi
seKian kesALahan daLam HidupKu …
LihatLah waKtu beRjaLan seMAkin jAuh …
daN aKu maSih meNCintAi seTiaP deTiK iTu ,

yaNg memPerteMUkan aKu deNGAnMu …

maSih sePErti pErtaMa kaLi raSA iTu aDA ,
seDikitPun aKU tiaDA beRubah …
seAndainYA kaMu maU pErcaya …
seAndainYA kaMu biSA pErcaya …
Nb: mesKipUn uDAh beRLaLu , daN diA meNinggaLkan kU deNGAn sMua Luka Itu .
muNgkiN haNYA deNGAn cAra Ini aKu bSA meNGenaNg sMUa Nya …

Aku Mencintaimu Apa Adanya

‘Untukmu Pujaan Hatiku’

Aku mencintaimu apa adanya
Layaknya angin yang setia bertiup semilir
Memainkan helai daun dan rerumputan

Aku mencintaimu apa adanya
Bagai langit yang menerima awan
Terbang melayang menemani

Aku mencintaimu apa adanya
Bagai sungai yang mengijinkan air
Mengalir mengikuti lekuk tubuhnya menuju hilir

Aku mencintaimu apa adanya
Bagai bumi senantiasa setia
Menanti hangat mentari di kala pagi

Aku mencintaimu apa adanya
Melebihi kata-kata yang mampu terucap
Tuk yakinkan bahwa aku mencintaimu apa adanya

Dan aku mencintaimu apa adanya

Mencintai kelebihan dan kekuranganmu
Mencintaimu kini dan nanti…

Dimanakah Cintaku

manakah maluku
tika aku mengucap cinta
tapi ini yang kumahu
supaya tiada salah sangka

manakah rinduku
yang bermain dikalbuku
tika malam menebarkan sayapnya
tika aku bermonolog sendiri

manakah cintaku
sudahkah ia dibawa pergi
oleh engkau yang baru kukenali
setelah lama ia terbiar sepi

Perindu

Pacaran Dalam Pandangan Islam

a. Islam Mengakui Rasa Cinta

Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.

“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik .”(QS. Ali Imran :14).

Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mengejwantahkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semau itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik.

Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku”.

b. Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal

Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat.

Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan pernyataan tanggung-jawab yang disaksikan oleh orang banyak.

Bahkan lebih ‘keren’nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan ‘pengayomnya`. Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.

Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `the real gentleman`. Karena dia telah menjadi suami dari seorang wnaita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi the real man.

Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Kecuali memang ada hubungan `mahram` (keharaman untuk menikahi). Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yang dulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpangan besar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernah terdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yang menyerampet kesana.

Sedangkan pemandangan yang lihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.

Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.

c. Pacaran Bukan Cinta
Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berentu sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemua langsung.

Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.

Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

d. Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan
Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.

Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,”Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa’ fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha’ Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)

Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta’aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.

Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.

Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sumber : Pusat Konsultasi syariah

Lagu Untuk Calon Isteriku

Tuhan tak pernah mengabarkan kapan kita akan bertemu
Tak pernah pula kita tahu apakah kita pernah bertemu sebelum ini
Yang kutahu aku tak perlu mencarimu
Tak perlu pula tergesa mempercepat perjumpaan kita
Karena akhirnya ku akan menemukanmu

Tuhan tak pernah menciptakan manusia begitu sempurna melebihi rasul-Nya
Tak perlu sebuah ikatan jika masing-masing telah sempurna
Yang kutahu bahwa aku berbeda dari yang lain
Yakinku bahwa engkau juga belum tentu sama dengan mereka
Karena itu maka kita adalah pasangan yang tepat untuk saling melengkapi

Tuhan telah menciptakan kita sejak dari bayi yang lemah
Kemudian mengajari kita cara hidup di dunia
Yang kutahu ada banyak hal yang belum kuketahui
Tak tahu pula bagaimana aku akan memperlakukanmu
Dari sana aku belajar agar menjadi lebih baik saat mendampingimu

Tuhan tidak memberitahu apakah aku akan bahagia bersamamu
Jika itu terjadi, tak akan ada lagi tangis patah hati
Yang kutahu kita sedang berusaha
Menghadapi kehidupan dengan segala suka-dukanya
Karena dari sana kita akan semakin kuat menghadapi badai saat bahtera rumah tangga kita telah berlayar

Tuhan telah menjodohkan aku denganmu
Merencanakan perjumpaan dan jalan hidup yang akan kita lalui
Yang kutahu itu semua bukan tanpa tujuan
Maka kuatkan jika aku mulai menjauh dari ridha dan cinta-Nya
Karena dengan itu aku pasti akan selalu mencintaimu

~lintasan pikiran saat nyuci baju~